Rabu, 17 Juli 2013

Pemanfaatkan NLP (Neuro Languange – Programming)




—Latar Belakang Penelitian
Manusia lahir dengan beragam ciri khusus yang tidak sama antara satu manusia dengan manusia lainnya. Keragaman ciri khusus ini secara mendasar  dapat digunakan sebagai fitur-fitur pembeda (distinctive features) identitas manusia yang memungkinkan kita dapat membedakan satu orang dengan orang lainnya. dengan orang lainnya.
Perbedaan fisik, seperti bentuk wajah dan tubuh adalah sejumlah fitur pembeda yang paling umum digunakan manusia untuk membedakan identitas. Salah satu metode yang diterapkan dalam hal ini adalah penerapan frekuensi  formant.
lebih lanjut dikembangkan dalam kajian linguistik forensik. Pada dasarnya  formant merupakan salah satu elemen kebahasaan yang bersifat dinamis. Penerapan frekuensi formant secara nyata dapat dilihat dalam dunia forensik.

Tujuan Penelitian
—Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menggambarkan peran frekuensi  formant sebagai penanda identitas yang lebih lanjut dapat digunakan dalam kepentingan kepentingan forensik. Untuk dapat mencapai tujuan utama di atas, terdapat sejumlah tujuan pendukung yang terlebih dahulu harus dicapai yaitu :
1.Menemukan dan membandingkan nilai frekuensi  formant dan secara spesifik nilai  formant dari central frequency bunyi bahasa.
2.Menemukan pola-pola frekuensi formant yang dimiliki suara.

Target Penelitian
—Objek penelitian ini adalah 10 orang responden dengan kriteria:
1. Penutur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
2. Tinggal dalam lingkungan pengguna bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
3. Intensitas penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris cukup tinggi.
4. Usia 25 – 30 tahun.
5. Masih memiliki artikulator yang lengkap.

Metode Penelitian
—Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang dikaji secara kuantitatif. Pengkajian secara kuantitaif dilakukan dengan melakukan pengujian secara matematis atas data-data yang menjadi subjek penelitian. Melalui perhitungan matematis ini, mencoba menggambarkan suatu implikasi yang dapat digunakan dalam ranah linguistik forensik.

Hasil Penelitian
—Pada dasarnya bunyi-bunyi yang dihasilkan memiliki nilai  formant yang tidak pernah sama. Hal ini n membuktikan bahwa nilai  formant yang dihasilkan oleh setiap orang tidak sama walaupun orang-orang tersebut memproduksi bunyi yang sama. Di samping itu, penulis juga menemukan bahwa bunyi yang disampaikan oleh orang yang sama juga tidak memiliki nilai  formant yang sama.

Kesimpulan
—Pada dasarnya bunyi-bunyi yang dihasilkan memiliki nilai formant yang tidak pernah sama. Hal ini membuktikan bahwa nilai formant yang dihasilkan oleh setiap orang tidak sama walaupun orang orang tersebut memproduksi bunyi yang sama.

Software Yang Digunakan
—Praat yang dalam Bahasa Belanda berarti ‘suara’, yang merupakan sebuah freeware yang diciptakan oleh Paul Boersma & David Weenink dari Phonetic Sciences Department University of Amsterdam.
—Dengan menggunakan PRAAT versi 4.5.14 penulis menemukan batas toleransi yang dapat digunakan sebagai penanda identitas. Melalui hal ini penulis menggambarkan suatu implikasi yang lebih lanjut dapat dikembangkan dalam kajian linguistik forensik.

Sumber 
http://harefa12.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar